Berkemajuan

Mempertahankan Budaya “Berkemajuan”, Melawan Kejenuhan

Ketika kita ditanya, siapa sih yang tidak ingin agar sekolahnya maju dan berprestasi? Semua orang yang diamanati menjadi pelaku amanah di suatu sekolah pasti ingin sekolahnya maju, berestasi, siswa-siswinya cerdas dan berakhlaq mulia. Inilah idealnya lembaga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam bidang Pendidikan.

Kita teringat dengan jelas budaya mutu yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan yang tergambar dalam Film Sang Pencerah menjelang muktamar seabad di Yogyakarta kala itu. Dalam film itu, KH. Ahmad Dahlan yang mengkader santri-santrinya dengan polesan sebuah lembaga sekolah  yang modern kala itu, dicibir oleh komunitas tradisional. Pola pikir (mindset) kemodernan Kyai Dahlan ditandai dengan terwujudnya generasi yang tangguh, cerdas berideologi Islam dalam menggelorakan semangat kebangsaan dan terwujudlah kemerdekaan yang hakiki di negeri ini.

Apalagi negeri besar ini masih belum terlihat dinikmati kemakmurannya oleh masyarakatnya sendiri. Siapa lagi kalau bukan generasi cerdas dan berakhlaq mulia, hasil polesan pendidikan dan dengan dasar keikhlasan serta berorientasi kedepan (futuristic) oleh para pelaku amanah pendidikan yang didalamnya ada perguruan Muhammadiyah?

Saat-saat seperti sekarang ini, adanya trend positif bagi dunia pendidikan di Muhammadiyah. Pasalnya para pelaku amanah di (AUM Pendidikan) yang bersungguh-sungguh ingin menjadikan sekolahnya maju, berprestasi, muridnya banyak dan bertabur bintang menunjukkan spirit tanpa batas  –-sebagaimana konsep mindsetnya Prof. Imam Robandi berupa Spirit tanpa batas yang digemakan oleh beliau—  harus senantiasa ditangkap sinyal positifnya oleh Principal dan kru-krunya (stake holder). Tidak berlebihan bila penulis menyebut Prof Imam Robandi sebagai pencetus Pendidikan Berkemajuan Sekolah Muhammadiyah dan mujahid Pendidikan Muhammadiyah.    Kesungguhan (Spirit ) itu nampak terlihat dari guru-gurunya dan semua yang terlibat disekolah tersebut, budaya positinya, langkah mantapnya dan bahu membahu dalam mewujudjkan visi jauh ke depan dan cita-cita luhur secara bersama-sama. Hasilnya pun luar biasa, membanggakan, manakjubkan dan menyemangati para pelakuya. Dapat dilihat, sekolah-sekolah Muhammadiyah di dominasi di Jawa sudah puluhan sekolah yang melahirkan generasi yang sudah berpikir mengembangkan program robotiknya dan sudah sampai ke mancanegara, disisi lain mereka pun hafal Juz Amma, disiplin sholat dhuhanya, sungguh alangkah nikmatnya memiliki murid-murid seperti ini.

Tetapi kadang kala yang tidak disadari adalah betapa pentingnya mempertahankan semangat (spirit) berprestasi bagi sekolah unggul agar idealisasi dan “standarisasi” sekolah muhammadiah bisa menjadi ciri khususnya. Para pelakunya lalai, lupa diri dengan spirit tanpa batasnya milik Prof Imam Robandi. Mempertahankan agar tetap istiqomah dalam gairah berkemajuan harus senantiasa diikobarkan. Belajar pengalaman pahit masa lalu terus perlu dibuka dan dibaca agar dikemudian hari tidak dihinggapi perasaan jenuh dengan posisi puncak yang ia rasakan.

Nah, ini adalah perasaan yang bisa hinggap di benak pikiran para pelaku amanah kapan saja. Mereka merasa sudah di puncak prestasi, namun terlewati momentum evaluasi diri, akhirnya muncullah kejenuhan, pudarnya  kepercayaan masyarakat,  turunnya  spirit, matinya inovasi dan akselerasi. Lambat laun menuju titik kulminasi pelemahan dan menurunnya prestasi. Bisa dikatakan kondisi seperti ini adalah emergency. Kalau Indikasi seperti ini muncul,  seharusnya dapat dideteksi dini oleh pelaku amanah dan berinisiatif untuk bangkit. Bukannya melembek bak tempe atau krupuk yang terkena air dan akhirnya melempem. Dapat dilihat, sekolah-sekolah muhammadiyah yang saat ini hilang dari peredaran, tinggal puing-puing bangunan, atau alih fungsi bangunan menjadi ruko dan tempat bermain anak-anak, dan lain sebagainya.

Maka, penulis mengajak semangat (spirit) tanpa batas itu selalu dibaca, dirasakan dan dinikmati. Dengan  upaya yang realistis berupa 1) Mujahadah (kesungguhan) dalam mewujudkan visi dan cita-cita, 2) menggelorakan : “tidak ada titik puncak keunggulan, tetapi yang ada adalah istiqomah dalam ghirah budaya mutu berkamjuan” 3) Menancapkan spirit tanpa batas didalam sanubari. Wallahu a’lam.

Oleh: Akhmad Faozan
Jumat, 29 Mei 2015 10:44

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *