Membuka Mindset Global Menepis Kejumudan

Kejumudan berakar dari kata jumud, bila dilihat di dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan dengan beku dan statis. Kalau dihubungan dengan kehidupan sehari-hari seperti dalam bidang keagamaan sangat terasa bila kita berada ditengah-tengah komunitas muslim di pelosok atau suatu kampung. Mereka dalam melaksanakan aktivitas keberagamaan masih berfikir kolot masih mengikuti leluhurnya, nenek moyangnya tanpa berpikir kritis dan dinamis. Seperti masih kentalnya budaya Tahayul, Khurafat dan adat kebiasaan lain yang menjadikan agama dalam dirinya beku dan statis. Indikasi dari langkah-langkah mereka adalah munculnya taqlid buta, mengekor sama sang kyai tanpa pandang bulu, tanpa sikap kritis dan tidak bersikap proporsional.
Teringat tatkala KH. Ahmad Dahlan dalam mendakwahkan Islam dengan model-model inovasi dan kreatifitas berpikirnya. Bagaimana langkah sang kyai dalam melawan kejumudan berpikir? Baik dalam bidang agama seperti penentuan arah kiblat yang pada saat itu ditentang habis-habisan dan sekarang apa yang terjadi?, kita bisa melihat di masjid-masjid ramai-ramai menggunakan alat modern dalam mendeteksi secara presisi arah kiblat. Dan dalam bidang pendidikan, upaya-upaya Kyai Dahlan pun sampai digembosi spiritnya dengan sebutan kyai Kafir. Karena metode dan sarana pra sarana yang beliau pakai adalah ATM dengan metode mutakhir yang diterapkan oleh Belanda saat itu.
Kejumudan dalam berfikir ternyata tidak hanya dalam hal agama. Dalam bidang pendidikan pun sering kita jumpai para pelaku pendidikan masih berfikir jumud yaitu beku dan statis. Tidak berkembang sesuai tuntutan zaman. Masih ditemukannya sekolah yang hidup segan mati tak mau atau tak mau gulung tikar, dalam pemberian honor gurunya dibayar seadanya, bahkan ada cerita dari Medsos masih ada sekolah yang hanya mampu membayar gurunya seratus ribu rupiah karena  jumlah siswanya terus merosot makin  minimalis. Sekolah seperti ini berkategori miskin, hampir kolaps. Kasihan betul sekolah ini. Siapa yang mau disalahkan?
Kalau ada anak yang seenaknya dalam berulah, berani melawan dengan orang tua. Saya berani menjastifikasi kalau orang tuanyalah yang belum mau membuka mindset berpikirnya. Atau orang tuanya yang kolot. Orang tua hanya berkeinginan di angan-angan. Agar anaknya  jadi anak betulan seperti teman-teman lainnya. Jadi anak cerdas, kreatif, spirit hidupnya meningkat dalam menemukan jati dirinya. Kalau anaknya mau seperti itu, orang tua harus ada upaya nyata. Orang tua jangan jumud, harus modal dan mau berpikir.
Sama halnya dengan sekolah yang dibiarkan oleh pemiliknya, tanpa pernah disuburkan tanahnya dibiarkan tandus ndak diopeni sementara pemangku amanah Kepala sekolah dan seluruh civitasnya pun tidak bergeming dengan adanya kondisi yang ada. Dengan bermunculannya sekolah berbasis Global. Maka tunggulah ketertinggalannya alias menanti waktu kolaps. Sekolah kalau sudah berprestasi sehingga sampai masyarakat menyebutnya sekolah berprestasi, itu ada masa atau zamannya. Bukannya sekolah meninggalkan ciri prestasinya, melainkan sangat diperlukan upaya kreatifitas, membuka mindset dengan tuntutan global seperti sekarang ini. Seperti sekolah-sekolah Muhammadiyah yang sekarang mulai menanjak eksistensinya yaitu sekolah-sekolah Muhammadiyah di Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Jakarta, di Yogyakarta dan sekarang mulai merambah ke Jawa Tengah.

Kita mengkhawatirkan adanya anti klimaks sekolah Muhammadiyah yang berlabel sekolah prestasi. Ketika para pemangku amanah asyik mempertahankan prestasinya saja tanpa berpikir inovasi dan ekselerasi dalam melangkah akan makin mendekati kepada kejenuhan dan kebosanan dalam langkah. Kalau sudah seperti ini masuk ranah psikologis dan sangat dirasakan oleh sebagian besar para pelaksana di lapangan oleh para guru yang membidangi dalam hal spesialisasi lomba tertentu.
Sehingga inilah yang melatarbelakangi perlunya merubah mindset jumud dalam bidang pendidikan menuju mindset global. Program Kerjasama antar sekolah baik di dalam maupun di luar negeri  sangat memacu semangat saling berbagi informasi dan keberpihakan pada hal-hal yang substansial yaitu meningkatnya eksistensi. Dan langkah inipun masih dipertanyakan akan manfaatnya. Padahal dampaknya luar biasa. Tidak hanya kepala sekolah dan gurunya yang melakukan program dan misi ini, melainkan murid-muridnya ikut terlibat di dalamnya. Yang familier yaitu dengan program Student Exchange. Dan masih banyak yang memberikan komentar miring terkait dengan program ini.
Apalagi program Beijing Trip yang sebentar lagi akan terlaksana, yaitu tanggal 2-10 Desember 2016 yang dimotori oleh ustad Said dan Ustad Edy Sukardi Uhamka, menjadi issu tersendiri yang dibuat oleh para penikmat rasa puas apa adanya. Bahkan dihubung-hubungkan dengan kabar yang didramatisasi dari sumber Medsos, WA yang dilebih-lebihkan. Kebetulan saja suhu pendek pada Pilkada Jakarta dan kekhawatiran berlebihan oleh sebagian dari masyarakat muslim yang masih awam di negeri kita.

Maka teruslah melangkah memperjuangkan eksistensi sekolah jangan hanya diam menunggu atau malah memelihara kebekuan dan statis. Melangkah adalah hasil ijtijad dalam  bidang pendidikan. Atas dasar masih banyaknya keprihatinan mendera para pemikir sekolah-sekolah. Semoga harapan itu tetap hadir di relung hati.

Oleh Akhmad Faozan